Mahasiswa Agronomi UGM Pelajari Pertanian Subtropis melalui Program Pertukaran Mahasiswa di Korea Selatan

YOGYAKARTA – Mahasiswa Program Studi Sarjana Agronomi, Departemen Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Hanif Falah Nasrulloh, memperoleh pengalaman mempelajari sistem pertanian subtropis secara langsung melalui program Asian International Mobility for Students (AIMS) di Gyeongsang National University (GNU), Korea Selatan. Selama satu semester, mulai Maret hingga Juni 2026, Hanif mendalami berbagai aspek budidaya tanaman, penelitian, hingga pertukaran budaya dalam lingkungan akademik internasional.

Menjadi satu-satunya mahasiswa UGM yang mengikuti program AIMS pada periode Spring 2026, Hanif memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memahami perbedaan mendasar antara sistem pertanian tropis di Indonesia dan pertanian subtropis di Korea Selatan. Selama mengikuti perkuliahan, ia menyaksikan secara langsung transisi musim dari akhir musim dingin menuju musim semi hingga awal musim panas yang memengaruhi seluruh proses produksi pertanian.

Pengalaman tersebut memberikan pemahaman baru mengenai pentingnya adaptasi terhadap perubahan musim. Hanif mengamati bagaimana rumah kaca dimanfaatkan untuk melindungi bibit dari suhu rendah, sementara petani menentukan jadwal tanam berdasarkan kondisi cuaca. Ia juga berkesempatan membudidayakan berbagai komoditas subtropis seperti kentang, selada, apel, persik, paprika, dan blueberry, serta mengikuti kegiatan panen buah-buahan yang jarang dijumpai di Indonesia. Pengalaman lapangan ini memperkaya pemahamannya terhadap teori yang selama ini dipelajari di bangku kuliah, khususnya terkait kebutuhan suhu dingin (chilling requirement), fase pembungaan, hingga pola panen musiman.

Selain mengikuti perkuliahan, Hanif juga terlibat dalam kegiatan penelitian di laboratorium GNU. Ia berpartisipasi dalam analisis penanda molekuler (molecular marker) pada varietas kedelai yang memiliki gen terkait lignin. Melalui pengalaman tersebut, Hanif tidak hanya meningkatkan keterampilan teknis di bidang bioteknologi dan pemuliaan tanaman, tetapi juga mempelajari pentingnya kolaborasi, ketelitian, serta budaya riset dalam lingkungan internasional. Sistem pembelajaran di GNU yang menekankan penugasan, praktikum, presentasi, dan evaluasi berkelanjutan turut membentuk kedisiplinan serta kemandiriannya sebagai mahasiswa.

Tidak hanya memperoleh pengalaman akademik, Hanif juga aktif memperkenalkan budaya Indonesia kepada mahasiswa internasional. Dalam kegiatan International Cultural Workshop di GNU, ia bersama mahasiswa Indonesia lainnya mengenalkan batik sebagai warisan budaya Indonesia, mengajak peserta memainkan permainan tradisional Cublak-Cublak Suweng, serta menyajikan kuliner khas Indonesia seperti nasi kuning dan nasi uduk. Kegiatan tersebut menjadi sarana pertukaran budaya yang mempererat hubungan antarmahasiswa dari berbagai negara sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia di tingkat internasional.

Selama menjalani program pertukaran, Hanif juga berinteraksi dengan mahasiswa dari berbagai negara, seperti Vietnam, Bangladesh, Malaysia, Pakistan, Uzbekistan, dan Filipina. Ia bahkan berkesempatan tinggal dan berinteraksi dengan keluarga angkat di Korea Selatan sehingga memperoleh pengalaman langsung mengenai kehidupan sosial dan budaya masyarakat setempat. Pengalaman tersebut memperluas wawasan global sekaligus memperkuat kemampuan komunikasi lintas budaya yang penting bagi calon agronom masa depan.

Bagi Hanif, mengikuti program pertukaran mahasiswa tidak hanya memberikan kesempatan belajar di luar negeri, tetapi juga memperluas perspektif mengenai pertanian global. Menurutnya, memahami sistem pertanian secara langsung di negara dengan karakteristik iklim berbeda memberikan pengalaman yang tidak dapat diperoleh hanya melalui perkuliahan di kelas. Pengalaman tersebut semakin menguatkan keyakinannya bahwa pertanian tidak hanya berkaitan dengan tanaman, tetapi juga erat hubungannya dengan manusia, budaya, iklim, serta kolaborasi ilmu pengetahuan lintas negara.

Melalui program mobilitas internasional ini, Hanif turut berkontribusi dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui peningkatan kompetensi mahasiswa dalam lingkungan akademik global, SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui penguatan kapasitas riset dan inovasi pertanian, SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim melalui pembelajaran mengenai adaptasi sistem pertanian terhadap perubahan musim, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi internasional antara UGM dan Gyeongsang National University dalam bidang pendidikan dan penelitian.

Penulis: Nurul Ahati
Kontributor: Hanif Falah Nasrulloh
Editor : Niken Nabilaputri Pranaasri, S.P., M.Agr.
Foto : Hanif Falah Nasrulloh

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*