Bogor — Upaya mempercepat perakitan varietas padi tangguh perubahan iklim menjadi perhatian berbagai pihak di tingkat global. Hal ini mengemuka dalam lokakarya internasional bertajuk “Accelerated Breeding for Climate Resilience in Rice” yang diselenggarakan pada 13–17 April 2026 di Bogor.
Padi sebagai komoditas utama di Asia Tenggara memiliki peran vital dalam ketahanan pangan. Namun, proses pemuliaan tanaman yang umumnya memakan waktu hingga 10 tahun dinilai terlalu lama untuk menjawab tantangan perubahan iklim yang berkembang pesat. Oleh karena itu, berbagai pendekatan percepatan pemuliaan menjadi fokus utama dalam forum ini.
Lokakarya ini melibatkan berbagai pemangku kepentingan internasional, termasuk perwakilan pemerintah Kanada, Universitas Saskatchewan, International Rice Research Institute, serta sejumlah negara Asia Tenggara seperti Malaysia, Filipina, Thailand, Vietnam, Laos, dan Myanmar. Universitas Gadjah Mada (UGM) juga turut ambil bagian dalam kegiatan tersebut melalui Departemen Budidaya Pertanian yang diwakili oleh Dr. nat. techn. Rizky Pasthika Kirana, S.P., M.Sc.
Dalam diskusi, para peserta membahas berbagai kendala yang menyebabkan lambatnya adopsi varietas padi unggul baru oleh masyarakat. Beragam inovasi teknologi diperkenalkan, mulai dari pengembangan populasi heterozigot hingga metode percepatan seleksi. Selain itu, aspek kebijakan dan sosial, termasuk proses pelepasan varietas dan tingkat penerimaan petani, juga menjadi perhatian penting.
Hasil lokakarya menegaskan peran strategis International Rice Research Institute sebagai penghubung dan penguat kolaborasi dalam percepatan pemuliaan padi di kawasan Asia Tenggara. Kolaborasi lintas negara ini diharapkan mampu menghasilkan varietas padi yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim dalam waktu yang lebih singkat. Melalui forum ini, terbuka peluang lebih luas bagi institusi pendidikan dan peneliti di Indonesia untuk terlibat aktif dalam program percepatan perakitan varietas padi. Upaya ini menjadi langkah strategis dalam menjaga ketahanan pangan sekaligus menjawab tantangan perubahan iklim global.
Kegiatan ini mendukung SDG Tujuan 2: Tanpa Kelaparan, yang terlihat dari fokus pembahasan pada pengembangan varietas padi unggul untuk meningkatkan produksi dan ketahanan pangan di Asia Tenggara. Selain itu, kegiatan ini juga berkaitan dengan SDG Tujuan 13: Penanganan Perubahan Iklim, karena seluruh topik lokakarya menitikberatkan pada perakitan padi yang mampu beradaptasi terhadap kondisi iklim yang berubah. Di sisi lain, keterlibatan berbagai negara dan lembaga internasional seperti International Rice Research Institute menunjukkan adanya kolaborasi global yang kuat, sehingga kegiatan ini juga mendukung Tujuan SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, khususnya dalam kerja sama riset dan pengembangan teknologi pertanian lintas negara.
Penulis : Nurul Ahati
Editor : Niken Nabilaputri Pranaasri, S.P., M.Agr.
Foto : Departemen Budidaya Pertanian