Yogyakarta, 31 Mei 2025 — Sebagai bagian dari implementasi pembelajaran berbasis lapangan, kegiatan field trip mata kuliah Kajian Ilmu Produksi Tanaman pada Program Magister Agronomi telah dilaksanakan pada hari Sabtu (31/5), pukul 07.00–16.30 WIB. Kegiatan ini berlokasi di Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan mencakup kunjungan ke dua lokasi utama, yakni PT Pagilaran Unit Produksi Samigaluh dan lahan milik petani kopi robusta di Nglinggo Barat. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat pemahaman mahasiswa mengenai sistem produksi tanaman teh dan kopi secara langsung melalui pengamatan, diskusi lapangan, dan interaksi dengan pelaku usaha agribisnis setempat.
Kunjungan lapangan diawali dengan peninjauan langsung ke PT Pagilaran Unit Produksi Samigaluh, sebuah perusahaan teh yang beroperasi dengan skema kemitraan kerja sama operasional bersama petani plasma. Di lokasi ini, peserta field trip memperoleh pemahaman mendalam mengenai proses produksi teh, yang meliputi pengolahan tiga jenis teh utama yakni teh hitam, teh hijau, dan teh putih. Setiap tahap produksi, mulai dari pelayuan, penggilingan, fermentasi, hingga pengeringan, dilakukan dengan memperhatikan standar mutu yang ketat demi menjaga kualitas produk akhir. Meski demikian, pengelolaan kemitraan ini menghadapi tantangan signifikan, terutama terkait regenerasi sumber daya manusia petani yang mayoritas sudah berusia lanjut serta kesulitan adopsi teknologi pertanian presisi.
Selanjutnya, peserta mengamati pengembangan budidaya kakao yang telah dilakukan sejak 2019 di lahan seluas sekitar tiga hektar di unit produksi yang sama. Sistem pemeliharaan kakao melibatkan penggunaan naungan untuk menciptakan mikroklimat ideal, serta pemeliharaan intensif yang meliputi pemangkasan, pengendalian hama, dan pemupukan berkala guna mendukung pertumbuhan optimal dan produktivitas tanaman. Hasil panen kakao dipasarkan dalam bentuk biji kering dengan mutu yang sangat bergantung pada ukuran dan bobot biji sebagai indikator kualitas.
Kegiatan lapangan diakhiri dengan kunjungan ke kebun kopi milik petani di wilayah Nglinggo Barat, Kecamatan Samigaluh. Di sini, kopi robusta dan arabika dibudidayakan dengan sistem naungan parsial menggunakan berbagai tanaman penaung seperti sengon, pisang, dan kapulaga, yang memberikan nilai tambah ekologis dan ekonomis. Perawatan tanaman kopi dilakukan secara intensif melalui pemangkasan rutin, pemupukan organik, serta pengendalian hama. Proses pascapanen yang meliputi pemisahan kulit, pengeringan alami, penyangraian, dan penggilingan, menjadi bagian penting untuk menghasilkan kopi berkualitas sesuai permintaan pasar.
Kegiatan ini turut mendukung tercapainya beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 2 yang fokus pada pengentasan kelaparan dan ketahanan pangan, SDG 8 terkait peningkatan pertumbuhan ekonomi dan pekerjaan layak, serta SDG 12 yang menekankan pada produksi dan konsumsi yang bertanggung jawab. Melalui pemahaman langsung terhadap praktik produksi tanaman dan kemitraan petani, kegiatan ini memperkuat kontribusi akademik dalam mendorong pembangunan pertanian yang inklusif dan berkelanjutan.
Penulis: Mareta Aulia Putri
Editor: Yudha Pria Wibawa
Foto: Vanra Lany Dudeseptessya